jueves, 10 de enero de 2019

Tidur di Bandara

Saya bisa dibilang seorang expert dalam hal tidur di bandara karena sudah banyak bandara yang saya tiduri. Tidur dalam artian bukan cuma ketiduran sejam dua jam, tapi bermalam dari larut malam sampai pagi. Alasan utamanya biasanya supaya bisa hemat gak perlu keluar biaya ekstra untuk akomodasi, maklum kismin. Alasan lainnya untuk ngejar flight terlalu pagi atau ketika sampe di flight larut malam dan udah gak ada transport massal umum (saya pantang naik taksi di luar negeri kecuali kalo dibayarin kantor)

Bandara-bandara yang sudah pernah saya tiduri (sesuai kronologis):

1. Bandara Changi, Singapura

Ini waktu tahun 2012, traveling sama ibu saya ke KL dan Singapura. Tadinya ke KL niat naik kereta malam ke Singapura namun kehabisan tiket jadi terpaxa naik pesawat AirAsia. Penerbangannyapun bentar karena deket dan nyampe Singapura lewat tengah malam MRT udah gak ada. Jadi tidur di badnara dan sempat dibangunin petugas keamanan, yg penting nunjukkin tiket/boarding pass dna paspor kita aman kok bisa tidur lagi dengan nyenyak

2. Bandara Shota Rustaveli, Tbilisi, Georgia

Ini waktu tahun 2016, lagi-lagi traveling sama ibu saya terbang dari Istanbul ke Tbilisi dan jam nya super gaenak. Take off larut malam dan nyampe jam 1-an jadi tidur di bandara. Kami tidur di rumput buatan di bawah eskalator dan ternyata buaaanyak yg juga tidur disana hehehe tapi kereta ke pusat kota baru ada jam 8 kurang & udah bosan nunggu jadi terpaksa naik taksi sekitar jam 6an paling nggak sudah tidak gelap

3. Bandara Zaventem, Brussels, Belgia

Ini waktu saya masih mahasiswa di Belgia, traveling ke Milan naik ryanair bareng teman saya orang Filipin. Flight baliknya nyampe larut malam dan sudah tidak ada kereta ke kota tempat tinggal saya jadi terpaksa tidur di bandara sampai pagi. Kebetulan ada sofa-sofa di area kedatangan dan banyak juga yang tidur di situ

4. Bandara Fiumicino, Roma, Italia

Ini waktu kuliah di Belgia juga, jalan-jalan weekend ke Roma dan flight balik ke Belgia pagi-pagi banget jadi paginya nginap di bandara

5. Bandara El Prat, Barcelona, Spanyol

Sama seperti di kejadian diatas, untuk ngejar flight pagi. disini saya mau apresiasi kursi di ruang tunggu terminal 2 yang gak ada armrestnya jadi sangat nyaman buat dipake tidur


6. Bandara Costa del Sol, Malaga, Spanyol

Ini waktu terbang dari Malaga ke Praha bulan Januari 2018. Sebenarnaya tujuan akhirnya Jerman, waktu itu untuk winter business school dan saya baru selesai liburan di Andalusia (Spanyol Selatan). Flight ke Praha jam 7 pagi jadi mendingan nginap di bandara

7. Bandara Tegel, Berlin, Jerman

Nah ini yang waktu itu lumayan bikin nyesek. Jadi harusnya saya terbang dari Bandara Berlin Schoenefeld ke London pada suatu siang di bulan Januari 2018, tapi saya ditolak boarding sodara-sodara, alasannya saya tidak punya visa Inggris (padahal saya tidak perlu waktu itu). Tiket sayapun hangus dan saya nekat beli tiket baru dari bandara lain di Berlin (Bandara Tegel) dan dari maskapai lain. Tapi tiketnya berangkat keesokan harinya pagi-pagi jam 7. Sehari sebelum keberangkatan (hari saya ditolak boarding) saya cuma muter-muter Berlin sendirian gak jelas, ogah ngeluarin duit buat nginep dan malemnya ke bandara untuk bermalam karena flightnya juga jam 7 pagi, kalo nginep di tempat lain takutnya ketinggalan. Akhirnya happy ending kok, saya bisa terbang ke London tanpa visa

8. Bandara Benito Juarez, Mexico City

Jadi ini sebenarnya saya terbang dari Merida ke Tijuana, di Mexico City transit doang. Tapi berhubung saya pengen sekalian eksplor Mexico City, saya pilih yang waktu transitnya lama. Dari Merida ke Mexico City pagi buta, terbang lanjutan ke Tijuana nya besok paginya, jadi malam diantaranya saya tidur di bandara Mexico city. Diantara bandara-bandara yang saya ceritakan ini, ini badnara yang paling gaenak untuk tidur. Gak ad akursinya sebelum check-in, jadi saya tidur di lantai sembari jagain hp yang di charge. Pegal-pegal nan tidak nyenyak tidurnya. Untung abis itu flight lumayan lama (4 jam) jadi sepanjang penerbangan tidur doang

Retrospective 2018

For me, 2018 has been... something

I wouldn't say that was the happiest or most successful year of my life so far as there were disappointments, incidents, and failures

But there were definitely a lot of things to be grateful of, some valuable lessons I've taken, and some of my dreams came true in 2018!

So I was thinking maybe 2018 is worth to recount here in my blog (pardon my simple English, it usually takes me ages to produce a well-written writing in English) so I can look back at 2018 in the far future and cekikikan melihat kepahitan hidup gue di masa lalu (I still do that to my 10-year-old posts here on my blog! haha)

My 2018 began here :


No, just kidding, I couldn't stand the crowd and cold so I was sleeping in my rented airbnb room when the calendar changed. Yeah, I was in the city I had dreamt to visit at the first day of 2018. It may sound childish or too mainstream to have such dream lol

Last semester of my master

Okay so as some of you might know, I was finishing my master degree in France during the first half of 2018. I already planned my 2018 onward back in 2017 when I chose my thesis topic. However, I had to rethink about that plan (and eventually changed it) after getting through a couple of #$%@)#^# stuffs during this time and I considered that as a failure since that exactly what I prayed so hard for back in 2017. Do I regret? No, I don't and I don't need to be forthright about that particular topic here but I'd say I had learnt a lot during this roller-coaster-like time (not necessarily about my thesis experience, though)

Some of my highlights during this period:

Unusually cold winter. It even snowed in April
Hiking by the sea
More hiking. It keeps my sanity
I paid a short surprise visit to my mom and sisters in Depok
 all the way from France. My mom's reaction was priceless
Celebrating France's victory in 2018 world cup
First time doing Eid Fitr prayer not in Alun-alun kota Sukabumi

Dreams achieved


I eventually got my master degree after 2 years of studying in Europe (my upmost thanks to European taxpayers). When I look back to 2 years ago, I made a hard decision to change my course of life by applying for this program and I'm really grateful for this. Apart from allowing me to achieve my dream to study abroad, it allowed me to become a better person (professionally and in general), to see the world and to meet tons of amazing people.

No alt text provided for this image


My parents and one of my sisters had a chance to attend my graduation ceremony in Belgium. We also visited 6 other European countries (I was the guide for the whole trip). Don't get me wrong, we're not rich. I know well how my parents saved money for this trip and I was struggling formulating an economical itinerary without sacrificing to much comfort for my parents. We didn't use taxi at all as European taxis are too expensive for ordinary Indonesians (we used mass public transport all the time), we booked our flight and hotel way in advance to get the best price, and we mostly visit free attractions (with some exceptions). I traveled a lot while being in Europe and I always wanted my family to experience the same :)



So after I officially graduated, I decided to go home and work in my home country rather than extending my visa to find work there. Not that I didn't want to work there, I was just thinking there're much more opportunities to work in the field that has to do with my degree in my home country. I didn't want my journey home to be an ordinary journey, so tried to check my another bucket list item:


I came to Europe from the east and I went back to Indonesia westward, so I technically did a round-the-world trip through the Atlantic, Mexico, the US, the Pacific, and eventually Asia albeit it involved only a few countries.

First time visiting Latin America ^^

A short trip to end my 2018


So what's for 2019?

I'm looking forward to starting my new job this January 2019. It's finally something strongly related to my degree (both my undergraduate and my master one). I know well how it feels to be a worthless piece of meat when my job has nothing to do with my degree and I'm not so into it. I'll just dedicate the whole 2019 to focus on my career, I guess

I'll try to spend less time in social media and do more writing on my blog as well as my quora account to develop some skills that writing can help to develop as well as to practice my language skill

Speaking of travel (you know I can be crazy when it comes to traveling), I visited 12 countries in 2018 (but only two new countries, though) which means way less than I did in 2017. By the way, I failed to reach my targeted number of countries visited in 2018. I guess I'm just too old and I've reached that age when I'm not as adventurous as when I was before. I'm not planning any trip for 2019 (not that I don't want to travel anymore, but I don't think it's possible due to my new job). But I'll definitely roam again somewhere (with whom? who knows) in 2020

viernes, 4 de enero de 2019

Menjadi Pemandu Wisata di Eropa (part I)

Prolog

Akhir Agustus hingga awal September 2018 kemarin, orang tua saya dan salah satu adik saya sempat mengunjungi saya di Eropa ketika saya hampir selesai studi disana. Sebenarnya tujuan utamanya adalah menghadiri wisuda saya yang diselenggarakan akhir Agustus 2018 di Belgia, tapi sekalian tamasya, berhubung ayah dan adik saya belum pernah ke Eropa pada waktu itu. Saya juga sekalian istilahnya farewell trip berhubung setelah lulus dan pulang ke tanah air, belum tau kapan lagi bisa ke Eropa hehe.

Tiket

Rencanakan trip ini sudah dari jauh-jauh hari, berhubung WNI kalau ingin berkunjung ke Uni Eropa memerlukan visa dan banyak perintilan yang musti diurus untuk visa schengen. Salah satu syarat apply visa schengen adalah tiket pulang pergi. Kalau visa takut di-reject padahal sudah beli tiket, sebenarnya bisa diakali dengan membuat dummy booking. Tapi berhubung kami gak mau nunda-nunda beli tiket (keburu mahal) dan kami cukup optimis visa bakal dikabulkan, jadi memutuskan beli tiket as soon as ada yang murah. Mencari tiket untuk 3 orang (ibu, ayah, dan adik saya) sudah dilakukan sekitar 5 bulan sebelum perjalanan.

Nah, ini bagian yang agak tricky berhubung Eropa luas, sebelum beli tiket harus dipikirkan baik-baik mau masuk dan keluar dari negara mana. Nah untuk kasus kami, negara mana yang dikunjungi tergantung tiket yang murah nya bagaimana. Salah satu trik mencari tiket murah adalah cari tiket yang open jaw, dalam artian bukan tiket PP yang sesederhana PP dari kota A ke kota B. Tapi misalnya berangkat dari kota A ke B tapi pulangnya ke kota C ke A. Selain karena seringkali lebih murah, lebih hemat juga dari segi transport lokal karena di Eropa gak perlu balik lagi ke kota yang sama untuk flight pulang ke tanah airnya.

Kombinasi tiket termurah yang kami temukan yakni berangkatnya Jakarta-Wina dan pulangnya Paris-Jakarta menggunakan maskapai Thai Airways seharga kurang dari 10 juta pp per orangnya. Sebenarnya hitungan 'sangat murah' untuk tiket ke Eropa yaitu sekitar 6 juta pp. Tapi berhubung waktu trip kami hitungannya masih musim panas dan liburan dimana banyak turis yang bepergian (baik turis Eropa ke Asia Tenggara maupun turis Indonesia ke Eropa), harga segitu termasuk oke lah

Itinerary

Nah, setelah beli tiket, saatnya susun itinerary juga untuk keperluan visa. Sebenernya bisa aja asal bikin itinerary sementara buat apply visa terus pas eksekusi perjalanan itinerarynya gak sesuai. Tapi berhubung itinerary melibatkan transport lokal dan tiket transport selama di Eropa lebih baik dibeli jauh-jauh hari, kami mem-fixed-kan itinerary tidak lama setelah beli tiket. Negara-negara yang kami kunjungi selama 9 hari disana beserta alasannya:

1. Austria, Ceko, dan Slovakia

Karena tiket yang murah tiba di Wina/Vienna (ibukota Austria) dan saya ingin mereka juga kunjungi negara-negara bekas komunis dibalik tirai besi pada zamannya yang tidak jauh dari Wina, biar gak cuma negara-negara mainstream Eropa barat yang biasa dikunjungi turis Indonesia

2. Belgia

Ini sih berhubung wisudanya di kota Liege, Belgia. Jadi 2 malam di Belgia

3. Italia

Ibu saya ingin ke Italia (beliau udah pernah ke Eropa sebelumnya, tapi Italia belum), dan juga banyak tiket murah dari Belgia ke beberapa kota di Italia (Roma atau Milan)

4. Paris, Prancis

Walaupun agak mainstream, sayang donk ke Eropa gak ke Paris. Tiket pulangnya juga dari Paris, jadi kami rencanakan 3 malam di Paris. Oiya kami sengaja agak lama di Paris supaya apply visanya bisa visa Prancis (katanya untuk turis Indonesia, visa Prancis relatif lebih mudah walaupun gak semudah Belanda) sumber : https://travel.kompas.com/read/2016/04/07/150400127/Wisata.ke.Perancis.Aplikasi.Visa.bagi.Turis.Indonesia.Dipermudah

Untuk Belanda kami skip walaupun cukup populer dikalangan turis Indonesia, karena saya pribadi kurang tertarik dengan Amsterdam atau kincir Zaanse Schaans yang overrated (saya sendiri belum pernah kesana) dan ibu saya sebelumnya sudah pernah

Hari 1 : Kedatangan di Wina*

*numpang curhat dikit. bahasa Indonesianya Wina, bahasa Inggrisnya Vienna. Tapi saya suka gatel kalo ada orang Indonesia yang nyebut/nulis Vienna padahal lagi nulis/ngomong bahasa Indonesia. Wina cuma 4 huruf, ngapain buang energi untuk nulis 6 huruf?? lidah Indonesia juga memerlukan energi lebih untuk mengucapkan fonem V. Bahasa setempatnyapun Wien, bukan Vienna dan Austria bukan negara berbahasa Inggris. Jadi.. mari mengucap dan menulis Wina

Orang tua dan adik saya dijadwalkan tiba di bandara Wina tanggal 25 Agustus pukul 7 pagi sedangkan saya pada saat itu tinggal di Nancy, Prancis timur. Jadi tanggal 24 nya saya sudah harus enyah dari Nancy. Setelah packing, saya naik bus malam ke Wina dengan membawa 1 buah koper. Berhubung Nancy merupakan kota yang tidak terlalu besar, saya harus ke kota besar terdekat yakni Strasbourg untuk naik bus malam ke Wina. Rute busnya Paris ke Budapest, tapi melewati Strasbourg dan Wina.

Oiya selama di Strasbourg sambil nunggu bus sempat bingung ngapain, akhirnya melakukan 2 hal:

1. Bayar utang ke tukang kebab. Beberapa bulan sebelumnya waktu pulang ke tanah air lewat Strasbourg, sempat makan di toko kebab tapi ga bayar karena kartu saya tidak berfungsi, tidak nemu ATM yang dekat, dan buru-buru ngejar bus ke bandara. Jadi abangnya mengikhlaskan. Tapi saya gaenak dong berhutang, jadi mumpung di Strasbourg lagi bayar deh

2. Kalo liat di peta, Strasbourg deket banget sama Jerman (hanya dipisahkan sungai Rhein). Kebetulan dari Strasbourg naik tram lokal bisa ke kota Kehl di Jerman. Jadi saya iseng ke Jerman, tadinya ga ada niat ngapa2in, nginjek tanah Jerman aja abis tu balik lagi. Tapi sesampainya di Kehl, saya bisa lihat menara dan kubah masjid di balik stasiun. Padahal jarang lho di Eropa masjid berkubah dan berminaret sebagaimana masjid normal. Kalopun ada, biasanya agak jauh dari pusat kota. Sayapun sekalian sholat maghrib dan isya disana

Peta tram Strasbourg, di sebelah timur di sebrang sungai udah Jerman

Bus saya dijadwalkan tiba di terminal bus Wina pukul 8 pagi, tapi agak telat sekitar setengah jam nyampenya. Setibanya di Terminal bus Erdberg, saya langsung ke bandara menggunakan U-Bahn sambung dengan S-Bahn. Di sana ayah, ibu, dan adik saya sudah menunggu di depan McD. Langsung saja kami menuju stasiun Mitte untuk menaruh koper kami disana.

Oiya, yang saya suka dari kota-kota di Eropa (dan tidak bisa ditemukan di kota-kota di AS) adalah kemudahan menitipkan koper di stasiun. Jadi sangat memudahkan ketika ingin berkeliling kota namun tidak menginap di kota tersebut. Kebetulan kami menginapnya tidak di Wina, tapi di Bratislava, Slovakia yang hanya 1 jam perjalanan menggunakan kereta dari Wina.

Selepas menitipkan koper, destinasi pertama kami ialah istana Schonbrunn. Oiya, selama di Eropa kami selalu menggunakan transportasi massal umum memanfaatkan infrastruktur trasnportasi yang cukup bisa diandalkan (gak pake taksi apalagi sewa mobil)


Kebetulan kami tidak masuk ke istananya, hanya menjelajah tamannya saja. Pertama karena bayar lagi kalau mau masuk istana (tamannya saja gratis) dan kedua karena waktu kami tidak terlalu banyak

Destinasi kedua kami yaitu pusat kota Wina. Oiya, selama di Wina kami murni pakai transportasi umum publik, U-Bahn dan S-Bahn

Image result for graben wien
Suasana pusat kotanya kurang lebih seperti ini (sumber: google)

Kami sempat mengalami scam yang tidak mengenakkan (mana ada scam yang enak). Ada beberapa orang Gypsy sok ramah berusaha ngasih-ngasih bunga, untuk kemudian minta duit dengan dalih kita beli bunga mereka. Kalo keukeuh gak mau bayar ntar dicubit (kayak saya)

Kami makan siang di sebuah restoran Turki yang masih di area pedestrian kota tua, sengaja karena saya ingin memperkenalkan ke keluarga saya kuliner turki yang cukup populer dan digandrungi di Eropa hehe

Setelah puas berkeliling di pusat kota, kami kembali ke stasiun Mitte untuk mengambil koper untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Bratislava, ibukota Slovakia, menggunakan kereta dari stasiun Central. Perjalanan ke Bratislava ditempuh hanya sekitar 1 jam. Sengaja ke apartemen yang kami sewa di Bratislavanya gak terlalu sore biar bisa sholat di sana dan bisa lebih lama istirahat, berhubung nyampe dari penerbangan jauh langsung jalan-jalan.

Kalo ditanya, ngapain ke Slovakia? 1. Karena gak jauh dari Wina dan penginapannya jauh lebih murah. 2. Biar gak melulu Eropa barat, sekali-kali Eropa yang agak 'kumuh' dikit bekas komunis. Oiya, karena perjalanan kami ke slovakia dari Austria menembus yang dulunya tirai besi (batas blok barat dan blok timur), terlihat sekali perbedaan mencolok antara Austria dan Slovakia. Stasiun Wina serba mewah dan futuristik sedangkan stasiun Bratislava lebih mirip terminal bus

Gambar mungkin berisi: 1 orang, luar ruangan
Di depan tram Bratislava
Sampe apartemen langsung tepar hehe kebetulan apartemen yang kami sewa lumayan nyaman, bisa untuk berlima (kami berempat), kamar mandi, dapur, TV, dll semua lengkap. Btw, mbak2 yang punya apartemen ternyata wakil Slovakia di Miss Universe beberapa tahun lalu. Ybs gak bilang sih, tapi saya bisa tahu dr kontak yg diberikan.

Di Slovakia hanya semalam, dan sebagian besar dihabiskan untuk istirahat karena orang tua dan adik saya malam sebelumnya tidur di pesawat dan saya tidur di bus. Keesokan paginya kami ke stasiun untuk melanjutkan perjalanan kami ke Praha. Kereta kami jam 8 pagi dan sempat ada insiden ketika keluar apartemen. Kami memutuskan meninggalkan kunci di dalam apartemen dan ternyata untuk keluar gedungnya butuh kunci, walhasil kami sempat panik mana si Miss Slovakia ditelfon ga ngangkat2 (pagi2 baru pulang party mungkin, maklum minggu pagi). Untungnya ada penghuni lain yg keluar juga jadi kami terselamatkan dan kami berhasil mengejar kereta ke Praha

Hari 2 : Praha

Perjalanan dari Bratislava ke Praha sekitar 4 jam dan kebetulan seat kami di kereta yang berempat 1 meja jadi enak. Sampai stasiun Praha sekitar tengah hari dan kami langsung menitipkan koper, karena di Praha tidak berencana menginap. Setelah itu makan siang di suatu rumah makan timur tengah tidak jauh dari stasiun. Di dekat sana juga ada masjid, jadi sekalian shalat. Ada masjid di tengah kota dekat stasiun merupakan sesuatu yang jarang lho di Eropa, apalagi di Republik Ceko yang notabene bekas komunis.

Tempat-tempat yang kami kunjungi selama di Praha diantaranya:

Wenceslas Square

Market Square

Pinggir Sungai Vltava dekat Jembatan Charles
Kebetulan di kota ini kami banyak jalan, dari stasiun ke Wenceslas Square, ke Market Square, trus ke Jembatan Charles, balik lagi ke Market Square kami jalan kaki kebetulan karena kotanya indah jadi gak bikin capek kalo jalan kaki. Kami total cuma punya 6 jam di Praha, jadi setelah (tidak) puas menjelajah Praha, kami langsung menuju terminal bus untuk menaiki bus malam menuju Belgia

(BERSAMBUNG...)